Tampilkan postingan dengan label info-silabus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info-silabus. Tampilkan semua postingan

Kata Kerja Operasional Taxonomy bloom untuk pengembangan indikator silabus rpp

00.02

"Kata Kerja Operasional Taxonomy bloom untuk mengembangkan indikator silabus dan rpp guru digunakan dalam menentukan aspek psikologis perkembangan pengetahuan anak."
Kata Kerja Operasional Taxonomy bloom
Kata Kerja Operasional Taxonomy bloom untuk mengembangkan indikator silabus dan rpp anda. Photo:ilustrasi

Kata Kerja Operasional untuk pengembangan Indikator Silabus dan RPP berdasarkan taksonomi Bloom dibagi dalam beberapa pencapaian kompetensi dasar, KD yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Taksonomi Bloom pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.

Tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan

  • Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam Kompetensi Dasar;
  • Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
  • Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

Daftar kata kerja operasional dengan tiga ranah yang biasa dipergunakan untuk menyusun indikator.


A. Ranah Kognitif
Indikator kognitif proses merupakan perilaku (behavior) siswa yang diharapkan muncul setelah melakukan serangkaian kegiatan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Perilaku ini sejalan dengan keterampilan proses sains, tetapi yang karakteristiknya untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa. Indikator kognitif produk berkaitan dengan perilaku siswa yang diharapkan tumbuh untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Indikator kognitif produk disusun dengan menggunakan kata kerja operasional (terlampir) aspek kognitif. Obyek dari indicator adalah produk IPA misalnya konsep, hukum, kaidah dll.
  1. Pengetahuan (C1) : Mengutip, Menyebutkan, Menjelaskan, Menggambar, Membilang, Mengidentifikasi, Mendaftar, Menunjukkan, Memberi label, Memberi indeks, Memasangkan, Menamai, Menandai, Membaca, Menyadari, Menghafal, Meniru, Mencatat, Mengulang, Mereproduksi, Meninjau, Memilih, Menyatakan, Mempelajari, Mentabulasi, Memberi kode, Menelusuri, Menulis
  2. Pemahaman (C2) : Memperkirakan, Menjelaskan, Mengkategorikan, Mencirikan, Merinci, Mengasosiasikan, Membandingkan, Menghitung, Mengkontraskan, Mengubah, Mempertahankan, Menguraikan, Menjalin, Membedakan, Mendiskusikan, Menggali, Mencontohkan, Menerangkan, Mengemukakan, Mempolakan, Memperluas, Menyimpulkan, Meramalkan, Merangkum, Menjabarkan
  3. Penerapan (C3) : Menugaskan, Mengurutkan, Menerapkan, Menyesuaikan, Mengkalkulasi, Memodifikasi, Mengklasifikasi, Menghitung, Membangun , Membiasakan, Mencegah, Menentukan, Menggambarkan, Menggunakan, Menilai, Melatih, Menggali, Mengemukakan, Mengadaptasi, Menyelidiki, Mengoperasikan, Mempersoalkan, Mengkonsepkan, Melaksanakan, Meramalkan, Memproduksi, Memproses, Mengaitkan, Menyusun, Mensimulasikan, Memecahkan, Melakukan, Mentabulasi, Memproses, Meramalkan
  4. Analisis (C4) : Menganalisis, Mengaudit, Memecahkan, Menegaskan, Mendeteksi, Mendiagnosis, Menyeleksi, Merinci, Menominasikan, Mendiagramkan, Megkorelasikan, Merasionalkan, Menguji, Mencerahkan, Menjelajah, Membagankan, Menyimpulkan, Menemukan, Menelaah, Memaksimalkan, Memerintahkan, Mengedit, Mengaitkan, Memilih, Mengukur, Melatih, Mentransfer
  5. Sintesis (C5) : Â Mengabstraksi, Mengatur, Menganimasi, Mengumpulkan, Mengkategorikan, Mengkode, Mengombinasikan, Menyusun, Mengarang, Membangun, Menanggulangi, Menghubungkan, Menciptakan, Mengkreasikan, Mengoreksi, Merancang, Merencanakan, Mendikte, Meningkatkan, Memperjelas, Memfasilitasi, Membentuk, Merumuskan, Menggeneralisasi, Menggabungkan, Memadukan, Membatas, Mereparasi, Menampilkan, Menyiapkan Memproduksi, Merangkum, Merekonstruksi
  6. Penerapan (C6) : Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengarahkan, Mengkritik, Menimbang, Memutuskan, Memisahkan, Memprediksi, Memperjelas, Menugaskan, Menafsirkan, Mempertahankan, Memerinci, Mengukur, Merangkum, Membuktikan, Memvalidasi, Mengetes, Mendukung, Memilih, Memproyeksikan

B. Ranah Afektif
Indikator afektif merupakan sikap yang diharapkan saat dan setelah siswa melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran IPA, indicator afektif berkaitan dengan salah satu hakekat IPA yaitu sikap ilmiah. Oleh karena itu, indicator afektif disusun dengan menggunakan kata kerja operasional dengan objek sikap ilmiah. Beberapa contoh sikap ilmiah adalah: berlaku jujur, peduli, tanggungjawab dll. Selain itu, indicator Afektif juga perlu memunculkan keterampilan social misalnya: bertanya, menyumbang ide atau berpendapat, menjadi pendengar yang baik, berkomunikasi dll.
  1. Menerima : Memilih, Mempertanyakan, Mengikuti, Memberi, Menganut, Mematuhi, Meminati
  2. Menanggapi : Menjawab, Membantu, Mengajukan, Mengompromika, Menyenangi, Menyambut, Mendukung, Menyetujui, Menampilkan, Melaporkan, Memilih, Mengatakan, Memilah, Menolak
  3. Menilai : Mengasumsikan, Meyakini, Melengkapi, Meyakinkan, Memperjelas, Memprakarsai, Mengimani, Mengundang, Menggabungkan, Mengusulkan, Menekankan, Menyumbang
  4. Mengelola : Menganut, Mengubah, Menata, Mengklasifikasikan, Mengombinasikan, Mempertahankan, Membangun, Membentuk pendapat, Memadukan, Mengelola, Menegosiasi, Merembuk
  5. Menghayati : Mengubah perilaku, Berakhlak mulia, Mempengaruhi, Mendengarkan, Mengkualifikasi, Melayani, Menunjukkan, Membuktikan, Memecahkan

C. Ranah Psikomotor
Indikator psikomotorik merupakan perilaku (behavior) siswa yang diharapkan tampak setelah siswa mengikuti pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Selama proses pembelajaran IPA, diperlukan kegiatan yang berkaitan dengan percobaan, penemuan atau pembuktian konsep. Kegiatan ini melibatkan aktivitas fisik, misalnya merangkai, mengukur, membuat, dll.
  1. Menirukan (P1): Mengaktifkan, Menyesuaikan, Menggabungkan, Melamar, Mengatur, Mengumpulkan, Menimbang, Memperkecil, Membangun, Mengubah, Membersihkan, Memposisikan, Mengonstruksi
  2. Memanipulasi (P2): Mengoreksi, Mendemonstrasikan, Merancang, Memilah, Melatih, Memperbaiki, Mengidentifikasikan, Mengisi, Menempatkan, Membuat, Memanipulasi, Mereparasi, Mencampur
  3. Pengalamiahan (P3): Mengalihkan, Menggantikan, Memutar, Mengirim, Memindahkan, Mendorong, Menarik, Memproduksi, Mencampur, Mengoperasikan, Mengemas, Membungkus
  4. Artikulasi (P4): Mengalihkan, Mempertajam, Membentuk, Memadankan, Menggunakan, Memulai, Menyetir, Menjeniskan, Menempel, Menseketsa, Melonggarkan, Menimbang

Contoh penggunaan Kata Kerja Operasional dalam pengembangan silabus RPP

Dalam menyusun indikator, yang perlu bapak ibu petakan adalah konsep berpikir siswa dari yang mudah ke sukar, teori ke praktik, dan seterusnya. Yang terpenting adalah Bapak ibu dalam menyusun kata kerja operasional harus runut dan berjenjang seperti contoh yang saya sebutkan diatas.

Berikut adalah contoh indikator dalam pengembangan RPP


BESARAN dan SATUAN
Kelas : X
Waktu : 45 menit
Model Pembelajaran : CTL
Metode : Eksperimen
Standar kompetensi:
Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya
Kompetensi dasar:
Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan waktu).
Indikator:
  1. Siswa membandingkan pengukuran massa dengan indera dan neraca
  2. Siswa mensimulasikan cara mengukur massa suatu benda.
  3. Siswa menemukan konsep massa.
  4. Siswa menghitung massa jenis suatu benda.

Alat dari kit guru:
  • Kit neraca
  • Bola dan balok
  • Botol air


Sumber:

[1]

Pentingnya Pemetaan SK dan KD dalam mengembangkan silabus berkelanjutan

23.46

Sudahkah guru melakukan pemetaan silabus pada rpp-nya? Selain berguna untuk menentukan alur pembelajaran, pemetaan SK dan KD juga berguna untuk mencapai target pembelajaran

Pemetaan SK dan KD
Pemetaan SK dan KD. Photo:ilustrasi
Pemetaan SK / KD dalam menyusun Silabus terkadang tidak disertai telaah yang mendalam. Memang dalam menyusun silabus, pemetaan SK/KD menjadi hal tersulit dilakukan oleh guru. Yang menjadi pertanyaan apakah silabus yang Anda susun sudah melalui pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK/KD)? Apakah Anda langsung menyusun silabus? Dapatkah silabus langsung disusun tanpa melalui pemetaan? Pernahkah Anda menyusun silabus tanpa pemetaan?

Apa jawaban guru-guru atas pertanyaan di atas? Yup, tidak mungkin silabus disusun tanpa melalui pemetaan. Pada waktu guru pertama kali diminta untuk menyusun silabus, apakah pada waktu itu menyusunnya melalui pemetaan? Silabus yang pertama menjadi milik sekolah, apakah disusun sendiri oleh guru-guru? Kenyataannya tidak, guru-guru memperoleh silabus yang sudah jadi dari MGMP, ada yang download contoh silabus dari internet. Silabus itu diperoleh tanpa pemetaan, bukan berarti si penyusun silabus itu tidak melalui pemetaan.

Memetakan dan menganalisis SK/KD

Dewasa ini guru diminta untuk menganalisis/memetakan SK/KD sebelum menyusun silabus dan silabus tahun lalu harus dikembangkan. Bagaimanakah Anda menganalisis/memetakan SK/KD? Mudahkah pemetaan ini? Apa yang harus Anda perhatikan dalam memetakan SK/KD?

Untuk memetakan SK/KD, sekolah telah menyediakan format pemetaan tersebut, kemudian dalam MGMP sekolah guru menganalisis bersama-sama. Pemetaan ini bertujuan untuk menganalisis tingkat berpikir siswa yang digunakan dalam SK/KD.
  1. Awal kita harus perhatikan dahulu standar kompetensinya (SK), tingkat berpikirnya tergolong yang mana.
  2. Jika kalimat SK menyatakan isi materi/konsep dicapai melalui proses berpikir, maka kita gunakan tingkat berpikir dari Taksonomi Bloom, yaitu C1 s.d. C6. Lihat daftar kata kerja operasional yang terdapat dalam SK.
  3. Sedang apabila kalimat SK menunjukkan adanya kegiatan praktik (psikomotor), maka kita guna pengukuran ranah psikomotorik, yaitu P1 s.d. P4.

Setelah kita menentukan tingkat berpikir atau tingkat keterampilan psikomotor tertinggi untuk masing-masing SK, kita lanjutkan untuk Kompetensi Dasar-nya. Tingkat berpikir dan psikomotor tertinggi untuk KD harus sama dengan SK. Setelah itu, kita menentukan indikator yang secara berturut-turut diperlukan untuk mencapai KD tersebut.
  1. Untuk mencapai tingkat berpikir dan psikomotor suatu KD, maka tingkat berpikir dan psikomotor indikator dimulai dari yang terendah, ranah C1 atau C2 sudah cukup.
  2. Secara bertahap diharapkan proses berpikir itu meningkat hingga tingkat tertinggi tercapai (C6). Karena psikomotor membantu mempermudah proses berpikir siswa, maka tingkatan psikomotor cukup dipilih yang sesuai, tidak bertahap secara rinci seperti tingkat berpikir.

Semoga tahun pelajaran baru 2012 - 2013 silabus kita telah dilengkapi dengan pemetaan SK/KD.

Penulis

[1]Etna Rufiati

Sumber:

[1]